Baca juga :
- Awas Jantungan gan, Coba Ketik kata "Lardass" di Iphone Kamu dan Lihat Apa yang Terjadi
- Beginilah Hukum nya Jika Sedang “Berhubungan Suami Istri” Sambil Membayangkan Jupe atau Depe
- Beginilah Nasib Miris Ponari Dukun Cilik Sekarang, Miris gan
"Meski hanya sebagai tukang sapu taman, saya sangat bersyukur diberikan pekerjaan oleh Pemkab Jembrana," kata Renita, Minggu 27 Desember 2015.
Renita mengaku lebih mujur dari rekan-rekannya. Sebab rekannya sesama altet berprestasi minim perhatian dari pemerintah. Menurut dia, banyak mantan atlet yang hingga kini hidup terlunta-lunta.
"Masih banyak mantan atlet berprestasi lainnya belum punya pekerjaan," kata Renika.
Seperti yang dilansirkan dalam situs DREAM Dia diberi pekerjaan sebagai tukang sapu taman dengan status tenaga kontrak sejak tahun lalu. Tiap bulannya Renika mengantongi Rp999.000 sebagai honor menyampu taman pagi dan sore. Sebelumnya dia bekerja sebagai tenanga serabutan yang penghasilannya tidak lebih Rp50 ribu perhari.
Renita mengaku penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan ia dan ibunya. "Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan ibu," kata alumni SMA Negeri 1 Negara yang tinggal bersama ibunya dan numpang dirumah milik neneknya ini.
Sang ibu, Ni Luh Sukermi, merupakan penjual canang (bunga sarana persembahyangan umat Hindu). Sebagai penjual canang, penghasilan ibunya tak seberapa. Uang didapat Renita dari hasil menyapu, meski tak seberapa, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.Meski menjadi tukang sapu, hingga kini Renita masih menekuni olahraga yang membuat namanya harum di tingkat Asia itu. Di sela kesibukan menyapu taman, dia masih fokus berlatih panjat tebing. Dia melewatkan waktunya hanya untuk menyapu dan berlatih panjat tebing.
Selesai menyapu, tiap Senin hingga Jumat, dia bergegas pergi ke Stadion Pecangakan Jembrana untuk berlatih. Waktu latihan lumayan lama, sejak pukul 16.00 hingga 21.00 WITA.Sang ibu akan menggantikan tugasnya menjadi tukang sapu taman jika Renita menjalani pertandingan di daerah lain. Dia mengaku tak malu melakoni pekerjaannya.
"Saya tidak malu. Saya mendapat bonus saat mendapatkan medali saja," tutup Renita.
Semoga ini menjadi pelajaran,,bahwa prestasi kita sekarang tidak dihargai,, terutama di olahraga, hanya di bidang bola saja yang diperhatikan,,sangat menyedihkan mendengar saudara kita nasibnya seperti ini,, dan jangan lupa baca juga artikel dibawah ini :



Tidak ada komentar:
Posting Komentar